Dari Jati Diri Menuju Iman (Hanya sekedar pemaknaan-pemaknaan
Dari Jati Diri Menuju Iman
Oleh : Yusril
Bismillahirrohmanirrohim
Tulisan ini mungkin cukup panjang dan akan terasa menjenuhkan dan membosankan, yahh namun mungkin sedikit banyak bisa memberikan sedikit bahan renung bagi yang doyan membaca. Meskipun strukturnya kurang rapi sehingga akan terkesan blak-blakan dan cenderung mengalami lompatan-lompatan struktur, mudah-mudahan pembaca yang rela membaca sedikit banyak ada yang tertinggal dipahaman. Mudah-mudahan bisa dipahami.
Dalam menjalani kehidupan, manusia sebagai subyek yang berkesadaran dan berintelaktual, pencipta, perasa, pengharap dan entitas-entitas kesadaran lain yang terkandung dalam dirinya mengalami dinamika-dinamika pasang-surut, dialektika subyektif kesadaran yang pada akibatnya mengaktual dalam bentuk yang material sebagai wujud yang tampak secara fisik yang terlahir dari wujud yang tak tampak.
Artinya, apa yang ada pada jiwa subyek akan tampak atau mewujud secara fisikli.
Dalam rentang gerak waktu perjalanan kehidupan manusia kegelisahan-kegelisahan eksistensial kerapkali muncul atau bahkan sebagian besar umur pada sebagian manusia di penuhi dengan perasaan kekosongan makna, ketidaktahuan arah, katidakjelasan kehidupan, yang ditambah dengan masalah-masalah pribadi yang kerapkali mengakibatkan tekanan-tekanan psikologis, bahkan banyak yang depresi, gila, atau bahkan bunuh diri akibat dari dialektika konflik internal yang tak mampu teratasi.
Konstruksi berfikir dari luar misalnya hitam itu buruk dan putih itu baik dan sebaliknya, gendut itu buruk dan kurus itu indah dan sebaliknya, yang semuanya banyak dalam masyarakat kita menjadikan itu sebagai nilai fundamen dan esensial dalam kehidupan dan banyak karenanya yang mengalami kejenuhan, insecure, dan persoalan-persoalan psikologis lainnya karena konstruksi berfikir ini. Lalu apakah ini obyektif? Apa asas sehingga penilaian2 ini dengan begitu mudah di internalisasi kedalam diri kita? Siapa yang menciptakan pemaknaan2 ini? Apakah ini sudah selaras dengan kesebagaimana adanya dalam hubungannya dengan diri yang hakiki?
Berangkat dari persoalan ilmiah kehidupan tersebut kita ingin melihat secara pengetahuan kenapa hal demikian bisa terjadi pada manusia? Apakah sudah tepat nalarnya?, kalau tidak, lantas nalar yang tepat apa?Tentu ini bukan sebuah kebenaran yang harus dinilai sangat obyektif, melainkan hanyalah sebuah ikhtiar kecil dalam memaknai salah satu serpihan kecil dari maha besar tema kehidupan.
Dilema manusia terhadap harapan-harapan atau standarisasi nilai yang diciptakan oleh akal dan hasrat manusia yang tidak menemukan keselarasan terhadap fakta diluar dirinya sebagai suatu sandaran material terhadap harapan-harapan yang dibangun menjadi pemantik hadirnya ketidakstabilan jiwa. Ketidakstabilan jiwa ini kadangkala dalam bentuk depresi, gila, mudah emosi, berhalusinasi, panjangnya agan-angan, bahkan paling ektrim bunuh diri sebagai akibatnya.
Apa penyebab utama Kenapa ketidak stabilan jiwa ini muncul?
Menurut saya, ini disebabkan oleh 2 hal ; 1. Jati diri yang otentik belum dikenali
2. Menyandarkan kebahagiaan hanya pada eksistensi material.
Poin yang ke-2 sebetulnya adalah hal yang sekunder dari poin pertama, namun untuk lebih mudah memahami sehingga saya anggap perlu untuk menjadikannya tema tersendiri meskipun tidak bisa dipisahkan.
1. Jati diri
Pertanyaan tentang hakikat diri?, mengapa kita diciptakan?, akan kemana? Akan melahirkan sebuah pembahasan mengenai kadar diri, Apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, apa kebutuhannya (tubuh maupun rohani), larangan dan perintah, apa yang wajib dan Sunnah bagi ukuran dirinya dan lain-lain.
Pengenalan tentang kadar diri merupakan sebuah hal yang wajib bagi ukuran manusia, dikatakan wajib sebab tidak mengistiqomahinya akan menimbulkan ketidakseimbangan eksistensi, ini terjadi sebab secara fitrah manusia adalah makhluk yang berpengetahuan dan watak dasar pengetahuan adalah menemukan kepastian. Mencari dan Menemukan Kepastian adalah suatu hal yang sangat mendasar dan merupakan kebutuhan primer oleh manusia, manakala manusia keluar dari prinsip ini maka sebagai akibatnya akan memunculkan ketidakseimbangan eksitensi, manusia akan gelisah, susah tidur, tidak mau makan, depresi, sakit, pusing dll. Inilah dasar kenapa dikatakan wajib, wajib merupakan representasi dari keharusan dan kemestian yang akan berdampak buruk ketika tidak dilakukan.
Memahami kadar diri akan mengantarkan kita pada sebuah pemahaman tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak mesti dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, yang merupakan sebuah proses penyelarasan kondisi obyektif diri dengan kondisi obyektif diluar diri.
Mencenderungi atau membangun standar atau membangun ekspektasi sedangkan bangunan-bangunan konsepsi itu tidak selaras dengan kondisi diluar yang pada akibatnya memunculkan ketidakpuasan, dilema, kejenuhan, kegelisahan dan lain-lain membuka kemungkinan bahwa masalahnya bukanlah diluar diri melainkan di dalam diri itu sendiri. Sebab mungkin saja realitas obyektif material diluar dirinya tidak memenuhi syarat untuk memuaskan eksistensi fitrah dalam dirinya, mungkin pula bangunan pengetahuan yang dibangun tidak sebagaimana dengan fitrah yang sebagai akibatnya terjadi kontradiksi nilai antara fitrah dengan obyek peletakan fitrah.
Manusia bertindak titik berangkatnya selalu berada pada landasan fitrah, fitrah sendiri terbagi menjadi dua jenis : fitrah biologis ( makan, hasrat, tumbuh, seksualitas, dll) dan fitrah mental (berpengetahuan, estetika, tanggung jawab, mencipta/karya, menghamba, ingin mendapatkan kebahagiaan, dll). Fitrah ingin mengetahui dengan prinsip menemukan kebenaran berada pada posisi yang paling mendasar sebab dia menaungi beberapa fitrah yang lain agar ditempatkan pada tempat yang seharusnya.
Fitrah yang ingin menemukan Tujuannya berprinsip bahwa fitrah sebagai suatu jalan bukan Tujuan. Kebahagiaan, Kepastian dan kelegahan eksistensi akan hadir manakala fitrah sampai kepada Tujuan.
Pengetahuan yang telah dikonstruksi Tanpa melakukan verifikasi tentang fitrah sebagai landasan awal dan pijakan untuk menemukan apa yang seharusnya di inginkan dan dituntut oleh diri manusia, berpotensi terjadinya kontradiksi antara apa yang seharusnya dan apa yang dilakukan sehingga menimbulkan ketidakstabilan jiwa.
2 . Karakter material dan hubungannya dengan fitrah
Dalam pembahasan fitrah sendiri, terdapat kecenderungan untuk menemukan kehakikian, kemutlakan, kestabilan, kesejatian, absolut, dan lain-lain istilah yang sepadan dengannya, namun baik secara filsafat maupun secara saintifik masing-masing menerima bahwa sesuatu yang material adalah sesuatu yang akan hancur, punah, hilang, atau berubah menjadi eksistensi lain, ini menjelaskan tentang ketidakmutlakan eksistensi material, padahal fitrah menginginkan kemutlakan, berdasarkan hal ini kita membuka 2 kemungkinan; pertama, yang diinginkan oleh fitrah sejatinya bukanlah pada hal-hal yang bersifat material. kedua, terdapat sesuatu yang bukan material yang sifatnya mutlak, stabil, hakiki, sejati, dan absolut. Ini bisa dibuktikan dengan contoh sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari ; secara subyektif tentu setiap diri kita merindukan kebahagiaan, kepuasan, dan ketenangan, lalu konstruksi pemikiran kita meletakkan kecenderungan-kecenderungan itu pada hal-hal yang material, padahal material akan mengalami kehancuran, tentu apa yang dituntut oleh diri kita akan mengalami problema subyektif bersamaan dengan hancurnya sandaran material itu, belum lagi ketika dimensi subyektifitas itu berdiri diatas landasan hasrat, hasrat adalah dimensi yang sangat labil, ketika diri kita menghasrati kebahagiaan dan peletakannya ada pada material, hasrat akan merasa terpuaskan setelah mencapai tujuannya namun akan mengalami kemunduran setelah itu, sebab hasrat adalah sesuatu yang sangat labil, sedangkan diri kita secara fitrah menginginkan kestabilan. Ini membuka sebuah ruang dialektika baru tentang dimensi fitrah yang seharusnya tidaklah berdiri di atas hasrat sebab tidak selaras dengan watak fitrah sendiri, ini juga lebih menguatkan dalil bahwa fitrah haruslah berdiri di atas dimensi akal sebab hanya akal yang memiliki sifat kestabilan, sehingga dalam peletakan fitrah semestinya berada dalam keterhubungannya dengan akal.
Rasionalisme dan kesadaran.
Lalu, Apakah akal sebagai basis rasional bisa menjadi faktor utama dalam menjawab problem fitrah?
Tentu akal dengan segala variabelnya, kemampuan mengenal, mendikotomikan segala hal, mendalami, dan variabel-variabel lainnya akan sangat membantu bahkan bernilai sangat fundamental dalam menganalisis dan mengenali dan menilai dengan tepat dimana semestinya fitrah akan disandarkan. Namun bukan berarti akal secara mandiri mampu bekerja secara efektif tanpa dilandasi dengan basis kesadaran, misalnya, kesadaran akal tentang dirinya sendiri, kesadaran manusia tentang dirinya sebagai manusia, kesadaran pencinta sebagai diri yang mencintai, kesadaran beragama sebagai diri yang beragama dan lain-lain. Memastikan kesadaran untuk tetap aktual dalam diri manjadi penting sebab akan menentukan stabilitas atas obyek yang disadari. Seorang manusia harus memastikan dirinya menyadari dirinya sebagai manusia agar diri kemanusiaannya tetap berada dalam jalur yang tepat, Seorang pecinta harus menyadari dirinya sebagai seorang yang mencintai sesuatu agar nilai-nilai cintanya terhadap sesuatu yang dicintainya tetap terjaga, seorang yang beragama harus menyadari dirinya sebagai orang yang beragama agar nilai-nilai keagamaannya tetap terjaga dan sebagainya.
Begitupun akal harus menyadari dirinya sendiri agar dimensi-dimensi akal bisa terjaga dan terukur sebagaimana mestinya. Tentu akal bernilai sangat mendasar dalam bahasan fitrah, namun akal juga mampu menciptakan sebuah konstruksi tentang dirinya yang justru sudah keluar dari asas-asas akal yang malah berdampak pada keobyektifan peletakan fitrah.
Misalnya, dalam konteks kebertuhanan kita; dimana akal seringkali melakukan demonstrasi dan somasi terhadap keseharian Tuhan untuk melakukan apa saja kehendaknya, manusia menjadi jaksa yang menuntut kesemau-mauan Tuhan agar disesuaikan dengan terbatasnya pemahaman logis kita, Tuhan tidak boleh menghadirkan sesuatu sesuai dengan kemauannya, Tuhan dipaksa untuk membatasi diri-Nya bersesuaian dengan kapasitas logis menusia, manusia melarang Tuhan untuk memanifestasikan gagasan-Nya, Tuhan diregulasi agar menyesuaikan diri terhadap kepentingan manusia, keputusan Tuhan untuk meletuskan gunung atau meluapkan air laut ke daratan disimpulkan sebagai bencana oleh manusia, manusia seringkali membantah ketika ada yang diingini namun menurut Tuhan itu tidak layak atau bukan untuk manusia miliki, Apa gerangan itu kalau bukan fakta bahwa manusia punya ambisi untuk menjadi pusat semesta dan sumber segala kehendak?
Ini menjadi sebuah contoh yang lazim dan baik untuk kita jadikan sebagai penjelasan untuk lebih menjawab problem fitrah yang sering kita temui dalam keseharian-harian kita termasuk saya sendiri yang sejatinya lahir dari tidak terbukanya kita untuk menyadari kapasitas akal, akal kerapkali berada dalam kendaraan hasrat, karena asasnya adalah hasrat sehingga akal menciptakan keonstruksi-konstruksi subyektif dan sehingga kadang berbenturan dengan apa yang diluar diri kita, Berbenturannya konstruksi akal dengan yang diluar inilah yang memantik ketidakbahagiaan, Maka kita perlu mengembalikan akal pada bentuk yang seharusnya yaitu melihat sebagaimana adanya segala hal bukan dideterminasi oleh hasrat. membuka kesadaran yang selebar-lebarnya terhadap segala hal termasuk akal.
Membuka kemungkinan Tuhan sebagai representasi dari kemutlakan, keabadian, keabsolutan, kehakikian, kesejatian dan istilah-istilah lain yang sepadan dengannya dalam filsafat Islam adalah hal yang rasional menurut penalaran akal dan Wahyu selaras dengan kecenderungan fitrah, menyandarkan kerinduan fitrah terhadap kebahagiaan, ketenangan dengan nilai-nilai hakiki lainnya kepada eksistensi Tuhan dalam filsafat Islam adalah pertemuan antara 3 kerangka ; akal, Wahyu, dan fitrah yang bertemu dalam sebuah capaian keimanan akan eksistensi Tuhan sebagai sandaran hidup yang sesungguhnya.
Sebagaimana yang katakan oleh Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i
"Iman adalah jaminan yang paling kuat dan kokoh dalam menghadapi ketakutan dan kekecewaan dalam pasang surutnya kehidupan. Orang-orang yang beriman tidak akan pernah berputus asa atau kehilangan kepercayaan diri dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun, sebab mereka tahu bahwa diri mereka terikat dengan kekuatan dan kekuasaan yang tak terbatas dari sang pencipta alam semesta. Mereka selalu ingat kepada-Nya dan dilindungi oleh-Nya dalam semua keadaan. Hati mereka tenang, jernih, dan kuat".
Hati adalah dimensi emosionalitas, kekuatan, harapan, keinginan, kesedihan, tawa, derita, kebahagiaan. Iman bertempat pada hati. Hati adalah pusat, kekuatan hati akan berdampak pada perbuatan (praktis). Hati yang beriman kepada Tuhan akan mengetahui kepada siapa dia bersandar dan kepada siapa dia mengembalikan segala sesuatu, hati yang beriman akan mengetahui kepada siapa dia akan meletakkan harapan-harapannya.
Fitrah yang berjalan diatas jalan yang lurus, berada dalam asas yang sebagaimana mestinya, yang menjawab segala kerinduan, adalah fitrah yang dipertemukan oleh 3 kerangka ; akal, Wahyu, fitrah yang akan sampai pada satu titik perjumpaan yaitu IMAN.
Problem diri yang bertentangan dengan kerinduan fitrah yaitu ketidakbahagiaan dan derita adalah ketidakberadaan iman
Dan tidak sadar dengan kadar dirinya.
Wallahu a'lam bissawwab.
Komentar
Posting Komentar