Tantangan Kemanusiaan bagi ummat dan rapuhnya kesadaran materialis
Dalam fenomena individu dan masyarakat yang menubuh dalam suatu realitas obyektif, terjadi suatu hubungan timbal balik secara niscaya. Manusia secara personal sadar dalam kecenderungannya menginginkan kebahagiaan begitu pula manusia secara sosial pun menginginkan itu. Sebagai suatu fakta, fenomena ini haruslah disadari secara pengetahuan sebagai suatu hal yang perlu untuk dijawab. Dalam kecenderungannya, manusia secara universal memiliki sisi kemerdekaan sedangkan dalam kecenderungan yang membuatnya berelasi mengharuskan suatu hukum yang di inginkan berkonsekuensi pada kemaslahatan bersama, dengan kata lain tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan.
Namun apakah mungkin manusia bisa dikatakan mampu untuk menerima dengan kerelaan dalam hal hukum (aturan-aturan) yang pada konsekuensinya bertentangan dengan keinginan individunya yang bermotif material ketika dihadapkan pada kepentingan sosial?. Dengan kata lain apakah manusia mampu merelakan kepentingan individunya demi kepentingan bersama (sosial)?. Kalaupun, ada yang menghendaki kepentingan sosial, apakah itu (sosial) hanyalah suatu hal yang di afirmasi dikarenakan tidak bertentangan dengan kepentingan pribadinya, dalam artian karena itu sama dengan keinginan pribadinya? Dan ketika itu bertentangan dengan keinginan pribadinya (yang material) tentu dia tidak akan mendukung kepentingan sosial itu? Lantas kita harus menyandarkan diri pada hukum yang mana yang terbebas dari kepentingan individu sedang yang membuat aturan atau hukum itu tidak lain adalah manusia itu sendiri yang secara potensial memiliki kepentingan? Apa yang bisa menjadi jaminan bahwa yang membuat hukum itu akan berorientasi pada kepentingan sosial dan mengesampingkan kepentingan individunya, selagi tendensi material masih menjadi obyek kebahagiaan dalam kesadarannya. Melihat bahwa obyek material itu terbatas dan semua orang menginginkan itu dengan kecenderungan yang tak terbatasnya.
Sebagai misal dalam kasus pandemi covid-19 yang mengharuskan aktualnya kebijakan-kebijakan yang di harapkan mampu untuk mangafirmasi kemaslahatan bersama. Namun tentu kebijakan-kebijakan itu tidaklah bisa lepas dari kemungkinan-kemungkinan yang ketika masih meletakkan asas kecenderungan individu yang telah dijelaskan dimuka, bahwa kepentingan yang dikatakan berlaku secara universal bagi setiap individu dengan kata lain respon sosial itu di buat dan didukung hanya karena diharapkan bermanfaat pada kepentingan pribadinya, atau dengan kata lain karena tidak bertentangan dengan kepentingan individunya. Olehnya itu ketika hal yang menyangkut diluar dirinya akan di sepelekan, misalnya masyarakat yang jauh dari tempatnya dan di pahami tidak berpengaruh dengan dirinya secara individu, itu direspon secara apatis. Secara kemanusiaan ini problematik.
Atas dasar itu, apakah cara pandang yang material bisa dikatakan mampu menjawab tantangan kemanusiaan ini?
Tantangan kita pada konteks problematika sosial yang mengharapkan menubuhnya nilai-nilai kemanusiaan dalam eksistensi individu lalu mengaktual menjadi aksi pada hari ini adalah ideologi yang mensyaratkan cara pandang, yang selaras dengan harapan solidaritas atas dasar kemanusiaan tanpa tendensi konsekuensi timbal balik sebagai harapan (sebab final).
Ideologi-ideologi yang berdiri di atas epistemologi materialis seperti Karl Marx dengan gagasan yang memaknai manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh motif ekonomi, bertran russel yang meletakkan kemanusiaan (humanitarian) di atas tendensi asas kepentingan, Jean Paul sartre dengan eksistensialisnya dan lain-lain yang secara ideologis berprinsip materialis, mengalami tantangan kemanusiaan dan dilihat tidak mampu memberikan jawaban.
Pandangan-pandang tersebut melihat peristiwa pandemi covid-19 dengan sangat pesimistik untuk mewujudkan gerakan kemanusiaan.
Lantas apakah ada ideologi yang melihat masalah ini dengan optimisme. Dengan begitu banyaknya kesadaran-kesadaran (pengetahuan yang telah membaku dan membentuk sebuah keyakinan) yang terjamah dalam segenap eksistensi manusia dan masyarakat dalam lintasan gerak sejarah masa lampau sampai hari ini?. Jawabannya adalah "ADA".
Setidaknya kita temukan itu dalam beberapa agama monoteisme dan politeisme. Yang meyakini keberadaan Tuhan dan kehidupan dalam dimensi yang berbeda dengan kehidupan di bumi. Yang walaupun secara karakteristik dalam sebagian agama-agama itu masih meletakkan tujuan dengan tendensi hubungan timbal balik atas dasar keuntungan sebagai alasan yang menggerakkannya. Terlepas dari nilai kebenaran teoritis ajaran agama itu benar atau tidak, namun sebagai suatu fakta, secara praktis mampu mengaktualkan nilai kemanusiaan, tanpa ada tendensi keuntungan atau kepentingan duniawi, sebagai suatu referensi riil, hal ini dapat ditemukan dalam catatan-catatan sejarah tokoh agama, orang shaleh, dll.
Dalam karakteristiknya, manusia secara fitrah cenderung kepada kemanusiaan, namun apa yang manajadi tantangan dalam konteks kehidupan di alam ini adalah begitu banyaknya konstruksi-konstruksi yang mengharuskan kemanusiaan ini ternegasikan, hal ini bisa kita lihat dari kedeterminasi material yang merelakan kita mengorbankan nilai kemanusiaan itu. Sehingga kadangkala semangat kemanusiaan yang murni tidak mencapai stabilitasnya, dalam artian hanya sekedar emosionalitas-emosionalitas yang wataknya bergantung pada situasi jiwa, kadang levelnya naik kadang turun. Olehnya itu madzhab pemikiran yang notabenenya diikat oleh akal (secara karakteristik stabil) bisa mengikat jiwa (hati), sehingga menyelaraskan antara kebenaran dan semangat begitupun kebaikan dan semangat.
Secara khusus dalam konteks keindonesiaan kita yang notabenenya menganut paham teisme yang setidaknya secara garis besar terdapat 6 agama yang secara yuridis di akui sebagai agama yang sah. Diharapkan mampu menjawab tantangan-tantangan ini.
Namun sebagai suatu fakta kita melihat bahwa subyek yang menganut salah satu agama tidak bisa menumbuhkan nilai praktisnya dan masih menyimpan keganjilan-keganjilan.
Secara teoritis, rasio telah membuka harapan kemanusiaan pada agama, akan tetapi fakta telah mengukuhkan ketidak mampuannya itu.
Lantas dimanakah masalahnya. Apakah agama sebagai suatu Mazhab pemikiran masih memiliki keganjilan bagi subyek yang memeluknya dan masih masih membutuhkan evaluasi secara pengetahuan? Ataukah subyek sendirilah yang belum menginternalisasi ajaran itu dalam derajat iman?.
Setidaknya Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dievaluasi dalam konteks keagamaan kita. Secara kemungkinan masalah itu terdapat pada pertanyaan pertama, juga kemungkinan pada pertanyaan kedua.
Namun saya tidak akan membahas tentang agama mana yang paling benar di antara agama-agama itu dan selaras dengan kebutuhan untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan pada hari ini.
Namun secara khusus setidaknya kita melihat dalam catatan sejarah Islam pada khususnya yang secara individu maupun sosial, perjuangan kemanusiaan itu termaterialkan dalam gerakan-gerakan atas dasar tauhid seperti perjuangan imam Husain, yang merelakan diri dan keluarganya atas dasar tauhid yang berkonsekuensi pada kemanusiaan, sayyidah Khadijah yang merelakan seluruh hartanya demi abdi pada agama atas dasar tauhid yang perjuangannya berefek pada kemanusiaan. Para sahabat nabi yang mengeluarkan hartanya demi agamanya dan berefek pada kemanusiaan. Hal ini karena adanya semangat tauhid yang meletakkan Tuhan sebagai dasar tindakannya bukan kepentingan yang sifatnya material. Selain itu kita melihat sosok Mahatma Gandhi yang bergerak dia atas agama cinta begitupula bunda Teresa yang memperjuangkan kemanusiaan.
Atas dasar itu, menginternalisasi agama atas dasar pandangan spiritualnya dan menyempunakannya sampai pada titik iman menjadi suatu tawaran yang di harapkan mampu menghadapi tantangan-tantangan kemanusiaan yang kita hadapi dalam kondisi pandemic covid-19 pada hari ini.
Selain itu sejarah masa depan bagi mereka yang melihatnya dari sudut pandang materialis akan melihat sejarah itu dengan pesimistik, namun apa yang wajib bagi kita untuk menolak ini adalah bahwa fakta yang sebagaimana ada-nya, Masyarakat tidak hanya berdiri diatas kesadaran materialis sebagai kesadaran satu-satunya namun kesadaran yang berdiri diatas spiritual masih menubuh dan masih memainkan perannya dalam sebagian besar eksistensi masyarakat.
07 Mei 2020

Komentar
Posting Komentar